PERAN FLOUR DALAM KESEHATAN GIGI DAN MULUT

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Banyak anggapan di masyarakat bahwa untuk memelihara gigi hanya perlu dilakukan dengan sikat gigi saja. Anggapan seperti ini bisa benar, tetapi bisa juga salah, artinya tidak hanya dengan sikat gigi saja. Yang terpenting disini bukanlah persoalan benar atau tidak, tetapi bagaimana masyarakat mengerti manfaat dari setiap unsur yang mendukung pemeliharaan atau pencegahan kerusakan gigi.
Diantara unsur yang ada tersebut adalah zat fluor yang ada di pasta gigi, yang digunakan setiap hari pada waktu sikat gigi. Zat tersebut berperan penting dalam pencegahan kerusakan gigi.

B.       Tujuan
Penggunaan fluor dapat dijadikan program peningkatan kesehatan gigi. Fluor bukan untuk menyembuhkan gigi yang sudah rusak, tetapi memperkuat daya tahan gigi terhadap pengaruh keasaman yang menyebabkan gigi berlubang. Fluor berfungsi melapisi struktur gigi dan ketahanannya terhadap proses pembusukan serta pemicu proses mineralisasi. Unsur kimia dalam zat ini mengeraskan email gigi pada persenyawaannya. Sehingga, tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu bentuk sosialisasi bagi pembaca mengenai penggunaan flour dalam bahan-bahan rumah tangga.

C.      Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan penggunaan flour sebagai upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.

D.      Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1.         Bagi penulis
Dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam berpikir objektif dan ilmiah serta sebagai penerapan dari disiplin ilmu bidang kesehatan gigi.
2.         Bagi pembaca
Memberikan informasi dan promosi kepada pembaca tentang penggunaan dan manfaat flour dalam kesehatan gigi dan mulut sebagai upaya nyata untuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, serta pencegahan kerusakan gigi.
3.         Bagi dosen
Memberikan informasi tentang penggunaan dan manfaat flour dalam kesehatan gigi dan mulut serta sebagai referensi bahan ajar di kelas.












BAB II
TINJAUN PUSTAKA

A.      Sejarah Penemuan Flour
Pada tahun 1901 seorang dokter gigi Amerika, Dr. F. McKay, yang baru saja pindah dari Pennsylvania ke Colorado Springs, menemukan apa yang dinamakan email yang berbintik (mottled enamel) pada gigi kebanyakan pasiennya. la menggambarkannya sebagai email yang ditandai dengan bintik kecil putih, atau bintik (daerah) kuning atau coklat, yang tersebar tidak beraturan di seluruh permukaan gigi. Atau seluruh gigi terlihat bagai kertas yang berwarna putih mati,seperti warna piring porselen.¹ Baru pada tahun tiga puluhan diketahui penyebab timbulnya bintik tersebut adalah kadar F air minum yang berlebihan (>2,0 bagian/106F/liter). Keadaan ini juga dihubungkan dengan rendahnya prevalensi karies di daerah itu. Penelitian mengenai hal tersebut diatas dilakukan di Amerika Serikat 2 dan 3 Inggris. Istilah ‘fluorosis gigi’ lalu dipakai dan penelitian pun segera diadakan untuk mengetahui manfaat fluor terhadap gigi.
Pada tahun 1942 Dean dan kawan-kawan menerbitkan hasil penelitian apidemiologi klasik yang dibuat oleh US Public Health Service. Penelitian dilakukan terhadap anak-anak berumur antara 12-14 tahun, tinggal di 20 kota. dan dicari hubungan antara karies yang terjadi dengan kandungan F pada air minum yang digunakan. Hasilnya menunjukan bahwa jika kadar F dalam air minum kira-kira 1 bagian/106 F (1 bagian per sejuta =1 bps) maka gigi penduduk yang berumur panjang di daerah tersebut mempunyai prevalensi yang rendah tapi tanda-tanda fluorosis. Contohnya, anak umur 12-14 tahun kariesnya 50% lebih sedikit dibandingkan dengan anak yang air minumnya tidak mengandung fluor. Penemuan ini menyebabkan dilakukannya penambahan F pada air minum yang tidak cukup mengandung mengandung F di beberapa daerah tempat penelitian klinis di seluruh dunia. 5 kandungan optimum F dalam air di daerah beriklim sedang adalah 1 bps sementara pada daerah beriklim tropis yang konsumsi airnya lebih banyak, kadar optimumnya dikurangi sampai menjadi 0.7 bps. Kesimpulan hasil penelitian itu adalah bahwa menurunkan karies dengan menambah flour dengan kadar optimal merupakan sesuatu mungkin dilakukan.

B.       Keberadaan Flour di Alam
Flour di alam dapat ditemukan di tanah, di air maupun di udara, selain juga ditemukan pada tanaman. Flour merupakan elemen paling elektronegatif dari semua elemen kimia, maka secara alamiah tidak pernah dijumpai dalam bentuk elemen tersendiri. Kombinasi secara kimiawi dalam bentuk flourides, fluorine adalah dalam urutan ke-17 dari susunan elemen, dan keberadaannya merupakan 0,016-0,09 % dari tanah yang di permukaan. Di daerah pegunungan, kandungan flour dalam tanah relative rendah.
Semua air mengandung flour dengan konsentrasi yang bervariasi. Air laut mengandung flour sekitar 0,18-1,4 mg/kg. Kandungan flour dalam air yang didapatkan dari telaga, sungai, atau sumur buatan biasanya sebagian besar jauh dibawah 0,5 mg/kg, meskipun pernah dilaporkan ada yang mengandung 95 mg/kg yaitu di Republik Tanzania. Air yang mengandung flour sangat tinggi biasanya ditemukan di kaki gunung yang tinggi.
Flour juga didistribusikan secara luas di atmosfir, berasal dari debu-debu tanah yang mengandung flour, dari buangan gas industry, dari pembakaran batu bara, dan dari semburan gas gunung berapi yang aktif. Kandungan flour di udara dari beberapa pabrik dapat mencapai 1,4 mg F per mᵌ. Kandungan flour di daerah non-industri didapatkan antara 0,05-1,90 ug F per mᵌ.
Beberapa tanaman, misalnya bayam, ketela, mengandung flour relatif tinggi. Demikian juga daun teh mengandung flour yang tinggi. Daging sapi mengandung flour yang rendah, namun kadang-kadang ditemukan daging ayam yang mengandung flour relatif tinggi, mungkin ayam-ayam ini diberi makan ikan atau tulang yang mengandung kadar flour yang tinggi.

C.      Peletakan Flour Pada Email
Banyak cara mempengaruhi kadar fluor dalam email karena fluor dapat memasuki email dalam tiga tahap pada periode pertumbuhannya. Fluor dalam kadar rendah, sesuai dengan rendahnya kadar fluor dalam cairan jaringan, akan menyatu dengan kristal apatit selama periode pembentukan gigi. Setelah klasifikasi gigi selesai, tapi sebelum erupsi, lebih banyak lagi fluor di serap oleh permukaan email yang berkontak dengan cairan jaringan. Akhirnya, setelah erupsi dan selama hidup, email terus menyerap fluor dari lingkungan sekitarnya. Pada saat ini penyerapan fluor dipengaruhi oleh keadaan email misalnya apakah email tersebut sehat atau tidak, atau apakah proses etsa atau karies telah menyebabkannya lebih porus karena larutnya substansi interprismata. Meningkatnya keporusan email akan memudahkan difusi dan penyerapan flournya. Pada gigi yang baru erupsi emailnya juga akan menyerap fluor lebih banyak daripada email yang telah matang.

D.      Mekanisme Kariostatika  Flour
Berbagai cara penambahan fluor pada email, dengan menggunakan berbagai media yang kadar fluornya bervariasi, telah dites selama lebih dari empat dekade terakhir ini. Mungkin bergantung pada tahap tertentu dalam pelarutan emailnya, atau pada macam preparat, kadar, dan berapa sering aplikasi fluornya.
Selain itu, fluor dalam lingkungan oral terdapat dalam plak (5-10),saliva (0,002bps) dan cairan celah gingival sebanyak 0.008 bps. Dengan demikian, bisa lebih dari satu macam mekanisme kerja serentak bekerja.
1.      Efek pra Erupsi
Jika ada flour selama periode pembentukan gigi, maka hasilnya adalah pembentukan email dengan kristal-kristal yang lebih baik yang akan lebih resisten terhadap serangan asam. Kadar flour yang optinum menyebabkan terbentuknya kristal yang lebih besar, lebih sempurna dengan kandungan karbonat yang lebih rendah sehingga kelarutannya terhadap asam dapat dikurangi. Selain itu diduga bahwa adanya flour selama periode pembentukan gigi menyebabkan bentuk gigi yang sedikit lebih kecil dengan tonjol yang lebih membulat serta fisur yang lebih dangkal. Walaupun penyelidikan pada binatang menyokong pendapat ini, tetapi hasil penyelidikan pada manusia tidak konsisten. Penghentian flouridasi air minum ternyata telah mengakibatkan peningkatan terjadinya karies. Ini memberi pikiran bahwa efek pra erupsi dari flour tidak besar.
2.      Efek pasca Erupsi     
Efek pada demineralisasai dan remineralisasi. Bertahun-tahun lamanya, alasan pemberian aplikasi topikal flour pada email adalah untuk meningkatkan kandungan flour email sekaligus menurunkan kelarutan email dalam asam. Akan tetapi, pendapat ini kini dianggap terlalu memyederhanakan persoalan. Beberapa penelitian klinis melaporkan kurangnya korelasi antara jumlah penyerapan total flour oleh permukaan email dengan penurunan insidens karies. Dan hasil penyelidikan laboratorium baru – baru ini memperkirakan bahwa mungkin ada level optinum penyerapan tertentu yang kalau tidak dicapai tidak akan memberikan manfaat. Apalagi sejak diketahui bahwa karies ditandai oleh periode demineralisasi atau perusakan dan remineralisasi atau perbaikan yang silih berganti, maka pandangan mengenai ‘cara kerja’ flour telah berubah.
Selama proses demineralisasi email, zat-zat yang terlarutnya,bersama-sama dengan ion bufernya yang berdifusi ke dalam plak dari saliva, akan menetralkan asam yang dihasilkan oleh kuman plak. Akibatnya plak menjadi sangat penuh dengan mineral terutama  jenis apatit yang berarti peletakkan mineral memang bisa terjadi. Ada dua aktivitas flour yang sangat penting disini yaitu kehadirannya dalam asam membantu menghambat demineralisasi disamping juga meningkatkan remineralisasi sehingga merangsang perbaikan atau penghentian lesi karies awal.
3.      Efek pada Kuman Plak dan Metabolismenya
Bergantung kepada konsentrasi dan pH, flour dapat menimbulkan efek antibakteri dan antienzim. Pada aplikasi topikal dengan konsentrasi lebih dari 1% F,baik APF (pH 3,2) maupun SnF (pH 2,1) ternyata toksis terhadap S. mutans. Tapi hal ini hanya efek sementara. Konsentrasi yang rendah  (2-10 bagian/106 dapat menghambat enzim yang terlibat dalam pembentukkan asam serta pengangkutan dan penyimpanan glukosa dan analog glukosa dalam streptococus oral. Juga dapat mencampuri sintesis polisakarida intrasel sehingga membatasi penyediaan bahan cadangan untuk pembuatan asam. Dengan demikian, adanya ion flour dengan kosentrasi yang rendah dalam plak dapat menurunkan efek kariogenik dengan jalan menghambat pembentukan asam dan penurunan pH yang diakibatkannya. Agar supaya efektif, flour harus dalam bentuk ion. Walaupun kebanyakan flour yang terdapat dalam plak berbentuk ikatan yang longgar, ion F dapat bebas jika pHnya turun sampai 4 atau 5 sehingga akan menaikkan kosentrasi ion F yang biasanya rendah pada cairan plak (0,08-0,8 bps).
4.      Efek pada Endapan Plak
Kemampuan bubuk hidroksi apatit dalam menyerap protein saliva berkurang secara bermakna jika dilakukan terapi flour. Oleh karna itu diperkirakan bahwa flour mampu menghambat penyerapan protein saliva pada permukaan email sehingga melambatkan pembentukan pelikel dan plak. Akan tetapi, penelitian klinik tidak mengungkapkan hasil yang jeles dan tidak pula ada bukti bahwa endapan plak itu berbeda jumlahnya pada daerah berkadar flour tinggi dan rendah.

E.       Sediaan Flour untuk Apikal Toplikasi
1.      Sediaan Berkadar Rendah untuk Pemakain Berulang
a.         Pasta Gigi
Kebanyakan pasta gigi yang dijual di seluruh dunia berisi fluor dalam bentuk natrium monofluorophosfat (NaMFP) karena kompatibel dengan kebanyakan zat abrasif yang digunakan. Juga diduga bahwa anion MFP (PO3F2-) itu tidak sendiri mempunyai sifat anti karies dan akan bertukar tempat dengam kelompok fosfat yang ada didalam kristal apatit sehingga nantinya akan mengeluarkan ion fluor. Untuk meniingkatkan efek MFP, beberapa formula baru juga mengandung natrium fluorida dan/ atau kalsium gliserofosfat, telah ada data yang menyatakan bahwa campuran ini makin meningkat efek MFP.
     Hasil uji klinik dari pasta gigi yang mengandung fluor memperhatikan adanya penurunan insidensi karies yang bervariasi antara 17% pada penduduk yang tinggal di daerah yang mengandung kadar fluor optimum sampai 34% pada penduduk dari daerah yang kadar kandungan fluornya nol. Oleh karena itu, penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor harus dianjurkan pada semua orang. Akan tetapi pemakaiannya pada anak pra sekolah harus diawasi karena pada umumnya mereka masih belum mampu berkumur dengan baik sehingga sebagian pasta giginya bisa tertelan. Kebanyakan pasta gigi yang kini terdapat dipasaran mengandung kira-kira 1 mg F/g ( 1 gram setara dengan 12 mm pasta gigi pada sikat gigi), meskipun ada juga yang mengandung 1,45 mg F/g. Diduga bahwa anak-anak pra sekolah rata-rata menelan 0,3-0,4 g setiap kali menggosok gigi sehingga jumlah fluor yang masuk ke tubuh tiap harinya bisa mencapai 0,5 mg. Pada level ini, walaupun bahaya terhadap kesehatan tubuh tidak ada, tidak mustahil terjadi fluorosis email pada gigi yang sedang tumbuh jika anak tersebut juga diberi tablet fluor. Tidaklah praktis menganjurkan pemakaian pasta gigi yang tak mengandung fluor pada satu individu sedangkan individu lainnya pada keluarga itu dianjurkan memakai pasta yang mengandung fluor. Oleh karena itu, kalau anak pra sekolah telah mengkonsumsi tablet fluor, orang tuanya harus dinasehati agar membatasi penggunaaan pasta gigi fluor sebesar 0,3 g saja yang besarnya kira-kira sama dengan ukuran kacang polong kecil. Kekerapan penyikatanpun hendaknya dibatasi sampai dua kali saja.
b.         Obat Kumur
Pada daerah yang mengandung kadar fluor rendah misalnya, 1 bagian / 106, berkumur dengan larutan fluor tiap hari, seminggu sekali, atau dua minggu sekali terbukti merupakan usaha pencegahan karies yang bermanfaat. Kadar fluor yang dianjurkan bergantung pada kekerapan berkumurnya. Seseorang akan diharuskan untuk berkumurselama satu menit dengan 10 ml larutan natriun fluorida yang mengandung 0,05%  NaF jika dilakukan sekali sehari, atau mengandung 0,2% jika berkumur tiap minggu atau dua minggu sekali.
Hasil percobaan klinik menunjukkan bahwa manfaatkariostatika obat kumur fluor berkisar antara 16 sampai 50 %, bergantung kepada lamanya percobaan. Berkumur tiap hari ternyata sedikit lebih efektif dibandingkan dengan berkumur tiap minggu atau dua minggu sekali. Apalagi, karena kadar fluor yang dipakai lebih rendah berkumur tiap hari lebih aman untuk anak-anak. Untuk orang dewasa, pilihan bergantung pada seberapa besar kerjasama pasien. Sedian APF pada umumnya mengendapkan fluor pada email lebih banyak ketimbang larutan NaF. Akan tetapi, pada percobaan klinik dengan kumur-kumur fluor, keduanya sama-sama efektif.
1)      INDIKASI
Berkumur fluor diindikasikan untuk anak yang berumur diatas enam tahun dan orang dewasa yang mudah terserang karies, serta bagi pasien-pasien yang memakai alat orto. Harus ditekankan disini bahwa riwayat diet harus selalu diperoleh. Nasihat diet dan petunjuk mengenai higiene oral yang tepat harus diberikan dulu sebelum berkumur fluor dilaksanakan.
2)      KONTRA INDIKASI
Berkumur fluor merupakan kontta indikasi bagi anak-anak di bawah usia enam tahun yang tidak mampu berkumur dengan baik. Berkumur fluor juga tidak diperlukan jika tablet fluor yang dipakai larut dalam mulut.
2.  Sediaan Berkadar Fluor Tinggi Untuk Pemakaian Teratur: NaF, APF, SnF, Pernis Fluor, Pasta Profilaktis.
Pada tabel di bawah ini dicantumkan sediaan yang tersedia di pasaran berikut kadar fluor masing-masing dan diperkirakan jumlah fluor yang terkandung pada tiap-tiap militer sediaan. Hal ini akan didiskusikan kemudian dalam hubungannya dengan keselamatan penggunaan fluor. Sediaan fluor dibuat dalam berbagai bentuk yaitu: larutan NaF, SnF, dan APF yang memakainya diulaskan pada permukaan gigi : gel APF yang juga dapat diulaskan atau dengan memakai aplikator khusus, pernis NaF dengan menggunakan bor caret (rubber cup). Kecuali pasta profilaktif, sediaan yang lain, jika diaplikasikan dua kali setahun terbukti menurunkan karies sebanyak 40%.

Sediaan yang Biasa Digunakan untuk Aplikasi Topikal
Sediaan

Kadar
Mg F/mg
Larutan NaF
2,0 % NaF
10
Larutan SnF
8,0 % SnF2
20
Larutan/gel APF
1,29 % F
12
Pernis NaF
2,26 % F
22
Pasta profilaktik
0,64-1,2% F
1
F.       Flour Dalam Pasta Gigi Untuk Memperkuat Lapisan Email
Flour sebenarnya adalah bahan yang terdapat dalam beberapa makanan atau air minum, sebab flour termasuk bahan mineral, artinya bahan yang terdapat dalam tanah.
Tetapi flour ini tidak terdapat berlimpah demikian rupa sehingga orang mudah memperolehnya. Hal ini tepat pula, sebab bila orang mendapat flour terlalu banyak juga dapat berbahaya.
Dalam jumlah kecil flour berguna untuk memperkuat gigi. Sedangkan bila kebanyakan, flour akan merusak gigi. Dalam jumlah berlebihan tersebut, gigi akan dapat mengalami hipoflasi, yakni keadaan di mana gigi tumbuhnya tidak sempurna, yaitu tumbuh kecil saja dan berwarna bercak-bercak coklat.
Karena itu bila hendak memperkuat email gigi dengan menambahkan flour harus hati-hati. Sebaliknya kekurangan flour, memang gigi tidak kuat dan mudah terkena serangan karies gigi.
Kadar flour yang dibutuhkan untuk keperluan penguatan email ini sebenarnya sedikit saja. Bila dicampurkan dalam air, hanya sekitar 1 mg per liter. Dengan istilah ilmiah disebutkan 1 ppm (part permillion) ,sebab bila kadar flour tersebar terlalu banyak justru akan merusak. Warna gigi menjadi bercak dan terjadi semacam hipoflasi, bentuknya jelek mengecil dan warnanya buruk sekali. Itulah sebabnya pemberian flour ini pun tidak boleh sembarangan.
Penggunaan flour bisa dilakukan secara perorangan dan secara kolektif. Flouridasi pada air minum misalnya, atau flouridasi bahan makanan lainnya seperti garam dapur ini adalah cara yang paling sesuai,sebab orang tidak perlu membuat satu kebiasaan khusus untuk melakukan pemberian flour pada gigi. Sedangkan cara lain yakni cara perorangan seperti halnya dengan menggosok gigi memakai odol berflour, berkumur larutan flour. Biasanya memerlukan suatu sikap positif untuk melakukan secara disiplin.
Dari penelitian dapat dikemukakan bahwa penggunaan flour dengan cara perorangan dapat memberi pengurangan karies sekitar 25–30 %.
Sedangkan pada flouridasi air minum memberi hasil pengurangan karies (reduksi karies) sekitar 60–70 %. Sementara itu, cara pemberian flour ini juga bisa dilakukan dengan aplikasi langsung kepada lapisan email gigi, dan ini dilakukan oleh dokter gigi atau perawat gigi di klinik.
Namun demikian cara yang paling mudah dan hasilnya memadai adalah cara pemberian flour pada air minum atau seperti yang kita sebutkan di atas, yakni flouridasi air minum.

G.      Pasta Gigi dengan Flour
Kita tentu pernah membaca iklan tentang pasta gigi mengandung flour. Kalau dilihat secara teliti,pada umumnya pasta gigi atau yang kita kenal dalam bahasa sehari – hari pasta gigi,  komposisinya adalah : 
1.  Bahan penggosok. Biasanya untuk bahan penggosok ini digunakan kalium karbonat atau bisa juga dipakai magnesium karbonat.
2.  Bahan yang bisa menimbulkan busa. Bisa digunakan sabun, baik sabun yang lunak maupun yang keras.
3.  Bahan pembasah. Maksud pemberian bahan pembasah guna mempertahankan supaya pasta gigi tidak kering. Untuk keperluan tersebut antara lain digunakan glyserin.
4.  Corrigens saporis. Maksudnya ialah bahan obat untuk menghilangkan rasa tidak enak. Untuk ini bisa dipakai sacharin atau turunan – turunannya yang memberikan rasa manis. Glyserin, disamping sebagai bahan pembasah juga merupakan corrigens saporis.
5.  Corrigens odoris. Bahan obat guna menghilangkan bau tidak enak. Biasanya digunakan minyak yang menguap seperti minyak adas, minyak cengkeh dan sebagainya.
Flour perlu diberikan pada pasta gigi, karena dimaksudkan dapat memperkuat lapisan email gigi. Untuk odol tersebut yang biasanya dipakai natriummono-flourfosfat, natrium flourida dan senyawa aminoflourida.
H.      Daya Racun Flour
Flour bereaksi dalam 4 cara yaitu apabila garam flour kontak dengan kulit yang basah atau membran mukosa, maka akan terbentuk asam hidroflourik yang membuat kebakaran khemis, merupakan racun protoplasmatik umum yang menghambat system enzim, fluor mengikat kalsium yang diperlukan untuk berfungsinya syaraf, terjadi hyperkalemia yang mempunyai kontribusi terhadap kardiotoksisitas.
Apabila puder flour kontak dengan membran mukosa atau kulit yang basah, maka akan terjadi perlukaan yang merah, kemudian area luka menjadi bengkak dan pucat, akhirnya menjadi ulserasi dan mungkin terjadi nekrosis. Apabila menelan flour yang berlebihan, akan terjadi muntah dan nausesa. Muntah biasanya disebabkan oleh pembentukan asam hidroklorid dalam lingkungan lambung yang asam, yang mengakibatkan rusaknya sel-sel tepi dinding lambung. Tanda-tanda local atau umum otot yang kejang disebabkan oleh turunnya kalsium darah. Hal ini dapat diikuti oleh kejang abdominal dan rasa sakit. Akhirnya, apabila hipokalsemia dan hyperkalemia meningkat, maka terdapat kondisi awal yang serius dengan terjadinya 3 C’s: coma, convulsion dan cardiac arryhythmias. Biasanya kematian disebabkan menelan flour yang terlalu banyak dan terjadi dalam jangka waktu 4 jam. Apabila dalam waktu 4 jam penderita bisa bertahan, maka prognosisnya bisa membaik (Neenan dkk., 2004)






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Flour di alam dapat ditemukan di tanah, di air maupun di udara, selain juga ditemukan pada tanaman. Penyerapan fluor dipengaruhi oleh keadaan email. Mekanisme kariostatika  flour meliputi efek pra erupsi, efek pasca erupsi, efek pada endapan plak, efek pada kuman plak dan metabolismenya. Kemudian sediaan flour untuk aplikasi topikal dibagi menjadi 2 yaitu: sediaan berkadar rendah untuk pemakain berulang dan sediaan berkadar fluor tinggi untuk pemakaian teratur: NaF, APF, SnF, pernis fluor, pasta profilaktis. Flour perlu diberikan pada pasta gigi, karena dimaksudkan dapat memperkuat lapisan email gigi. Akan tetapi, apabila menelan flour yang berlebihan, akan terjadi muntah, nausesa dan bahkan kematian.

B.       Saran
 Penggunaan flour dapat dilakukan melalui konsumsi beberapa tanaman, misalnya bayam, ketela, yang mengandung flour relatif tinggi. Demikian juga daun teh mengandung flour yang tinggi. Sebab, jika ada flour selama periode pembentukan gigi, maka hasilnya adalah pembentukan email dengan kristal-kristal yang lebih baik yang akan lebih resisten terhadap serangan asam. Pemakaian pasta gigi yang mengandung flour dapat memperkuat email gigi dan juga menurunkan risiko karies.




DAFTAR PUSTAKA



Sriyono, Niken Widyanti. 2005. Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Yogyakarta: Medika-FK UGM Yogyakarta.

KIDD, Edwina A.M. 1991. Dasar-dasar Karies Penyakit dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC.

Pratiwi, Donna. 2009. Gigi Sehat dan Cantik . Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Machfoedz, Ircham dan Asmar Yetti Zein. 2005. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-anak dan Ibu Hamil. Yogyakarta: Penerbit Fitramaya.

Pusat Promosi Kesehatan. 2007. Peran Flour dalam Pencegahan Kerusakan Gigi.  www.promosikesehatan.com/?act=article&id=120. 26 Januari 2011.


0 komentar:



Poskan Komentar